
Bogor – Desember 2025 – Suasana berbeda menyelimuti pelaksanaan Ujian Sertifikasi Kompetensi (Sertikom) bagi siswa-siswi kelas X dan XI tahun ini. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang identik dengan keheningan laboratorium komputer di mana siswa hanya mengerjakan praktik di bawah pengawasan penguji, tahun ini sekolah menerapkan terobosan baru yang lebih menantang dan relevan dengan dunia kerja.
Tahun ini menjadi tonggak sejarah baru dalam pelaksanaan Sertikom. Pihak sekolah mengubah format ujian dari sekadar “tes kemampuan teknis” menjadi simulasi profesional yang komprehensif. Jika sebelumnya siswa dinilai berdasarkan langkah-langkah pengerjaan di depan komputer, kini mereka dituntut untuk melakukan presentasi (pitching) terkait portofolio produk atau karya yang telah mereka buat.


Perubahan mendasar ini menitikberatkan pada value (nilai jual) dari karya siswa. Di hadapan penguji yang merupakan praktisi langsung dari Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), para siswa tidak hanya mendemonstrasikan kemampuan teknis, tetapi juga menawarkan karya mereka sebagai sebuah solusi yang dibutuhkan oleh industri.
Format baru ini memaksa siswa untuk keluar dari zona nyaman. Mereka dilatih untuk berpikir kritis, membangun kepercayaan diri dalam public speaking, dan memahami sudut pandang bisnis dari kemampuan teknis yang mereka miliki. Portofolio yang dipresentasikan bukan sekadar tugas sekolah, melainkan tawaran profesional selayaknya seorang vendor menawarkan jasa kepada klien.


Antusiasme terlihat jelas dari para peserta. Meski ketegangan tak bisa disembunyikan saat berhadapan langsung dengan pihak industri, pengalaman ini memberikan gambaran nyata tentang persaingan di dunia kerja yang sesungguhnya. Transformasi sistem Sertikom ini diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara hard skill, tetapi juga matang secara soft skill dan siap bernegosiasi di dunia profesional.
